Euforia…
Juni 2007
“Rifqi, kamu ke thailand, helmi ke fiilipin. Tapi jadwal keberangkatan belum pasti“
Itu lah kira-kira yang bakal disebutin oleh kertas pengumuman dari LPKM kalo kertas bisa ngomong.
Alhamdulillah, rejeki kami buat bisa student exchange ke luar negeri sudah datang.
Yah, akhirnya hari ini ada sedikit kepastian dari DIKTI tentang kepastian program student exchange, setelah sekian lama tidak ada kejelasan tentang program ini, saya merasa lega. Begitu juga temen-temen lain yang mendapatkan program serupa, tukar menukar info pun dilakukan, ada yang ke malaysia, vienam, dan laos.
Saya sanga bersyukur dan senang bisa punya kesempatan pergi ke Thailand, karena saat tau ada seleksi student exchange pun, saya langsung membayangkan thailand, juga ketika proses wawancara pun saya menekankan bahwa saya ingin ke Thailand
“ I want to go to Thailand, because I am interested in its culture and nature. Another place that I will choose is Malaysia, but I still prefer go to Thailand“
Kira-kira itulah jawaban saya dalam SundLish(Sundanese English) ketika menjawab pertanyaan pilihan negara yang ingin dikunjungi di kantor ISO ITB. Tapi saya kira hampir semua orang memilih thailand, maybe I just Lucky, Alhamdulillah.
Kenapa thailand? Karena saya bener-bener tertarik tentang budaya dan alamnya, setidaknya dari info yang selama ini saya dapet tentang thailand, yang terbayang adalah Thailand is a beautiful country!
Jadi hal pertama yang saya lakukan adalah nanya ke Om Google tentang Thailand, mulai dari bentuk dan sistem negara, bahasa, kebiasaan masyarakat, dan tentunya tempat berwisatanya. Hehe.
Obrolan dengan Om Google pun membawa saya ke site pelajaran bahasa thailand, inggris-thailand (yang pada akhirnya nanti ga terlalu berguna, karena bahasa tulisan yang ditulis dalam bahasa latin, berbeda dengan pengucapan dalam bahasa aslinya). Beberapa kata coba saya hapal tapi ya itu, hanya berupa teks, ga ada audionya. Research pun terus dilakukan, untuk mendapatkan persiapan terbaik.
Ini bakal jadi pengalaman pertama saya pergi ke luar negeri, pengalaman prtama juga dalam hal naik pesawat terbang, hehehe.
Oh iya, saya belum punya passport.
Ya dimulailah sebuah usaha mebuat passport di kantor imigrasi bandung di daerah jalan suci. Bersama empat orang anak ITB lain yang sama-sama ke thailand. Tian, Novri, Ayu,dan Devi.
Berurusan dengan administrasi dan birokrasi, hal yang tidak terlalu saya senangi.
Untung saja jadwal keberangkatan kami tidak mendesak, sehingga proses pembuatan passport yang memakan waktu sekitar satu minggu itu kami jalani dengan santai. Menurut info buat yang buru-buru ada pelayanan khusus satu hari dengan membayar satujuta rupiah, padahal bila mengiikuti prosedur normal passport bisa didapat dengan harga sekitar tigaratus ribu rupiah(lupa tepatnya).
Jadi hari pertama kami beli formulir pendaftaran den mengisinya, lalu didaftarkan di loket. Setelah menerima bukti penyetoran dan pendaftaran kami pulang dengan bekal jadwal kapan kami harus kembali lagi untuk administrasi lanjutan. Dua hari kemudian kami kembali untuk melakukan administrasi lanjutan yaitu pengambilan foto dan sidi jari juga wawancara. Wawancara standar tentang status diri dan tujuan pembuatan passport. Setelah itu kami pulang untuk mengambil passport pada hari yang sudah ditentukan.
Proses yang mudah….
Ada hal yang menarik(atau lebih tepatnya memalukan) waktu saya sedang menunggu antrian untuk pengambilan foto. Ada dua orang petugas imigrasi yang berselilsih paham dan sempet membuat keributan kecil diruang adminstrasi. Yang satu masih muda dan berlaku kasar, sedangkan lawannya adalah seorang yang lebih tua dan lebih terlihat tenang. Rupanya mereka berselisih pendapat, si oknum yang muda itu kesal karena titipannya untuk membuatkan passport bagi orang lain( jadi dia berlaku sebagai joki) tidak mau diproses oleh bapak yang tua itu. Bapak yang tua itu bilang bahwa pembuatan passport tidak boleh diwakilkan. Good vs Evil terjadi lagi. Untung kericuhan itu hanya berlangsung sebentar karena dipisahkan oleh petugas yang lain( ketika saya datang lagi untuk mengambil buku passport saya masih melihat oknum muda itu bekerja, semoga atasannya sudah memberinya sanksi yang berlaku dan memberi hadiah pada petugas tua yang jujur itu).
Saya juga melihat orang-orang yang mendapatkan pelayanan khusus tanpa antri, saya kira itulah orang-orang yang membayar satu juta rupiah. Tapi ya sudah, saya tidak berminat untuk mempertanyakan apakah hal itu legal atau tidak.
To be continued….
Next part : the purpose of student exchange and ketidakjelasan!